
Hasil tersebut menunjukkan pentingnya pemantauan kondisi lingkungan secara langsung, terutama ketika wilayah menghadapi ancaman karhutla dan penurunan kualitas udara. Sensor lapangan memberikan informasi aktual yang dapat digunakan bersama data hotspot, cuaca dan informasi spasial untuk membantu pemerintah menentukan wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih cepat.Ketua Tim Peneliti, Assoc. Prof. Dr. Rahmad Kurniawan, ST., MIT di dampingi anggota tim Haris Tri Saputra, M.Kom, Zul Jndra, M.Sc menjelaskan bahwa pengembangan IoT Mikroklimat diarahkan tidak hanya untuk kepentingan penelitian, tetapi untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
“Ketika kualitas udara sudah berada pada tingkat yang perlu diperhatikan, data lapangan dapat segera menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah. Dampaknya bukan hanya pada penanganan karhutla, tetapi juga pada kebijakan pendidikan, kesehatan dan aktivitas masyarakat.” Ujar Rahmad.
Nilai penting dari IoT Mikroklimat terletak pada kemampuannya menghadirkan ground check secara real time. Data satelit memberikan cakupan wilayah yang luas, sementara sensor di lapangan memberikan gambaran kondisi yang sedang dialami masyarakat pada lokasi pengukuran.
Ke depan, data IoT Mikroklimat akan diintegrasikan dengan sistem dasbor seperti Kampar Karhutla Watch dan lainnya. Sistem tersebut dirancang untuk menyatukan informasi hotspot, cuaca, kualitas udara, kondisi lapangan, dan analitik spasial sehingga dapat membantu BPBD Kabupaten Kampar serta pemerintah daerah maupun Kepolisian dalam menentukan prioritas wilayah, respons lapangan dan langkah perlindungan masyarakat.
Pengembangan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi Universitas Riau dalam menghadirkan teknologi yang dapat diterjemahkan menjadi informasi untuk tindakan, bukan sekadar data pemantauan.



